Memahami diri

Self-gaslighting: saat kamu melakukannya pada diri sendiri

Self-gaslighting adalah meyakinkan diri sendiri bahwa persepsimu keliru sebelum orang lain sempat melakukannya: meremehkan kejadian, meragukan reaksimu, lalu mencari-cari pembenaran. Beginilah bunyinya dalam pikiran.

Self-gaslighting adalah kebiasaan menepis, mengecilkan, atau terlalu banyak menjelaskan perasaan dan persepsimu sendiri bahkan sebelum ada orang lain yang menanggapi. Kamu bilang pada diri sendiri bahwa kamu berlebihan, bahwa kejadiannya tidak seburuk itu, atau bahwa mungkin ingatanmu yang salah. Kebiasaan ini sering muncul setelah kamu cukup lama di-gaslight orang lain, sampai akhirnya kamu mengambil alih tugas mereka.

Mengapa biasanya berawal dari gema suara orang lain

Self-gaslighting sering bermula dari versi yang terserap dari ucapan seseorang, entah orang tua, pasangan, atau atasan. Ucapan itu diulang begitu sering hingga akhirnya berjalan sendiri, tanpa perlu ada orang lain yang mengatakannya lagi.

Kalimat-kalimat yang menjadi tempat persembunyiannya

'Mungkin aku saja yang terlalu sensitif', 'Bukan masalah besar kok', atau 'Pasti dia nggak bermaksud begitu' bisa jadi bagian dari refleksi yang tulus. Tetapi kalau kalimat-kalimat itu muncul otomatis, setiap kali, bahkan sebelum kamu sempat merasakan reaksimu, biasanya itu self-gaslighting.

Mengapa terasa masuk akal, bukan menyakitkan

Self-gaslighting jarang terasa seperti mengkhianati diri sendiri. Ia terasa dewasa, bijak, dan adil, dan itulah yang membuatnya sulit disadari: penyangkalan itu dikemas sebagai keseimbangan.

Apa yang sebenarnya bisa menghentikannya

Berhenti sejenak sebelum penjelasan otomatis itu muncul, lalu bertanya, 'Apa yang kurasakan sebelum aku meyakinkan diri bahwa itu bukan apa-apa?' Bahkan hanya sekali, dan sambil menuliskannya, biasanya lebih jelas mengungkap polanya daripada berusaha menangkapnya saat sedang terjadi.

Ini adalah kebiasaan untuk melindungi diri, bukan sifat yang menetap. Kebiasaan ini sering mereda ketika hubungan atau lingkungan yang dulu mengajarkannya berubah. Seorang psikolog juga bisa membantumu membedakan mana penilaianmu sendiri dan mana suara lama yang kamu pinjam dari orang lain.

Mengenali polanya secara umum memang membantu. Yang lebih sulit tapi lebih bermakna adalah menyadari kalimat persis yang kamu ucapkan pada diri sendiri terakhir kali kamu menyangkal reaksimu yang sebenarnya. Temukan kalimat itu, di OLENRI