Cara kamu berbicara pada diri sendiri adalah petunjuk
Kalimat seperti 'setidaknya dia nggak seperti mantanku', 'nggak ada orang yang sempurna', atau 'aku harusnya bersyukur' sering menandakan kamu sedang menerima seadanya, bukan benar-benar merasa cukup, terutama jika dipakai untuk membenarkan ketidaknyamanan yang spesifik, bukan untuk menerima ketidaksempurnaan yang wajar.
Menginginkan hal yang berbeda, bukan sekadar menuntut lebih sedikit
Menerima seadanya sering kali bukan soal menurunkan standar tentang bagaimana kamu diperlakukan. Ini soal diam-diam memutuskan bahwa keinginanmu yang sesungguhnya (ambisi, kedekatan, nilai hidup yang sejalan) tidak cukup penting untuk diperjuangkan. Itu kompromi yang berbeda dan harganya lebih mahal.
Janji masa depan yang diam-diam kamu buat untuk dirimu sendiri
Meyakinkan diri bahwa sebuah jurang akan menutup nanti, misalnya 'dia pasti akhirnya mau punya anak' atau 'dia akan lebih penyayang seiring waktu', tanpa bukti nyata bahwa hal itu sedang berubah, adalah cara umum menerima seadanya menyamar sebagai kesabaran.
Mengapa takut sendirian sering lebih berperan daripada cinta
Jika jawaban jujur atas pertanyaan 'lebih baik aku sendiri atau terus dalam dinamika yang persis seperti ini?' selalu tidak, dan alasannya soal takut sendirian, bukan soal orang ini, itu layak kamu renungkan baik-baik.
Ini bukan soal mengejar standar yang mustahil. Setiap hubungan yang nyata melibatkan kompromi soal preferensi. Yang membedakan adalah preferensi yang fleksibel dengan kebutuhan mendasar yang diam-diam kamu abaikan, dan itu layak kamu akui dengan jujur pada diri sendiri.
Mengenali pola umumnya memang membantu. Tapi menyebutkan SATU hal spesifik yang selama ini kamu bilang tidak penting, padahal sebenarnya penting, adalah hal yang lebih sulit dan lebih berguna untuk dilihat. Namai hal itu di OLENRI