Stonewalling

Stonewalling: mengapa ini terjadi, dan mengapa tidak selalu soal menghukum

Stonewalling bisa terlihat seperti hukuman lewat diam, padahal sering kali itu sistem saraf yang menutup diri karena kewalahan. Begini cara membedakan mana yang sedang kamu hadapi.

Stonewalling, yaitu mendadak diam, menarik diri secara fisik, atau menolak terlibat saat konflik, termasuk pertanda keretakan hubungan yang paling kuat menurut para peneliti. Namun jarang sekali ini didorong niat jahat. Paling sering, itu terjadi ketika sistem saraf sedang kewalahan (flooding) dan memilih berhenti, karena sudah melewati batas kemampuannya untuk terus berdebat tanpa mengucapkan sesuatu yang lebih menyakitkan.

Sisi fisiologis yang sering terlewat

Sistem saraf yang kewalahan membuat detak jantung naik dan cara berpikir menyempit, sama seperti saat menghadapi bahaya fisik. Itulah sebabnya orang yang sedang stonewalling sering kali benar-benar tidak bisa menjangkau kata-kata, logika, atau kehangatan pada saat itu. Bukan tidak mau, melainkan tidak bisa, untuk sementara waktu.

Mengapa tetap menimbulkan luka, apa pun niatnya

Apa pun penyebabnya, orang yang menerimanya merasa ditinggalkan di tengah percakapan yang penting. Jika terjadi berulang kali, pengalaman itu sendiri bisa menjadi pola yang menentukan hubungan kalian.

Bedanya dengan silent treatment

Silent treatment biasanya merupakan sikap menahan diri yang disengaja dan terkendali, dengan tujuan menghukum atau merebut kendali. Stonewalling terjadi di luar kendali pada saat itu, meskipun secara teori seseorang bisa belajar mengenali dan menghentikannya lebih awal.

Apa yang benar-benar memutus siklusnya

Jeda yang tulus dan berbatas waktu, misalnya "Aku butuh 20 menit, dan aku pasti kembali," yang disampaikan sebelum menutup diri, mengubah rasa ditinggalkan menjadi sebuah rencana. Inilah perbedaan terbesar dalam cara hal itu diterima oleh pasanganmu.

Jika stonewalling hanya terjadi dari satu pihak dan tidak pernah dibicarakan atau dikembalikan ke percakapan, hal itu layak dibicarakan secara langsung. Pola yang dianggap "memang begitulah dia" tetap bisa dibantu untuk diputus oleh terapis pasangan, apalagi setelah kalian berdua memahami apa yang sebenarnya terjadi secara fisiologis.

Memahami sisi fisiologisnya memang membantu. Namun yang lebih sulit, dan lebih berguna, adalah menyebutkan momen tepat sebelum penutupan diri terakhir: apa yang sebenarnya diucapkan tepat sebelumnya. Telusuri momen itu di OLENRI